Kedua orang tua saya
dikarunia lima orang anak dimana saya merupakan satu-satunya anak
laki-laki mereka dan yang paling bungsu. Saya tidak pernah punya teman
untuk bermain, karena sejak kecil jarak usia kami agak jauh; mereka
senantiasa sibuk dengan kerja sekolah ketika saya memerlukan teman untuk
bermain.
Makanya, saya lebih
sering bermain dengan penjaga saya dan ketika saya bosan, saya keluar
dan bermain. Untuk sebab itu maka saya lebih banyak teman di luar rumah,
di luar dari keluarga saya, tetangga yang mayoritasnya Muslim.
Dalam keluarga saya, apa saja yang mempunyai 'citarasa Muslim' dianggap
tidak sesuai. Maka setiap hari Khamis ketika acara pembacaan Quran
(ketika itu kami hanya punya TVRI, milik pemerintah) dan segera saja
mereka akan mematikan TV, demikianlah keluarga saya.
Ketika sampai usia untuk saya sekolah, secara alami kedua orang tua
saya mengantar saya ke sekolah Katolik, seperti kakak-kakak saya.
Sekalipun demikian, saya merasa lebih nyaman berteman dengan Muslim.
Mungkin karena zaman kecil yang saya lalui, pandangan negatifsenantisa
ada pada keluarga saya sering menganggap saya adalah seorang anak yang
sulitdiatur. Dengan kata lain, bagi mereka saya adalah seorang yang
sering menyalahkan segalanya; apa saja yang saya perbuat baik tidak
mendatangkan apa-apa bagi mereka. Maka saya sering saja mencari jawaban
bagi masalah saya diluar dari keluarga saya. Catatan akademik saya juga
tidak istimewa kecuali Bahasa Inggris saya.
Saya mula berpikir dengan persoalan yang saya miliki di sekolah tinggi,
saya terus saja bertanya dan bertanya, saya membaca banyak buku, dalam
upaya untuk mencari segalanya tentang keimanan saya. Tetapi dengan
berlalunya masa, semakin banyak yang saya peroleh, semakin saya
merasakan, "Bukan ini, bukan ini yang saya inginkan." Apa yang lebih
buruk ialah semakin saya melibatkan diri saya dalam aktivitas agama,
semakin jauh saya dari apa yang saya harapkan, yang hanya membuat saya
bertambah kecewa.
Apa yang saya
dapati hampa belaka tetapi itu merupakan pandangan negatif terhadap
kepercayaan orang lain. Setiap kali saya berusaha untuk memberikan
pandangan lain, mereka mengatakan bahwa saya berpihak, saya terlalu
memberikan penilaian, dan sebagainya.
Akhirnya, saya semakin jauh dari mereka, tetapi apa yang menarik ialah
saya semakin menjadi dekat dengan teman-teman Muslim saya, mereka
tampaknya menerima saya tanpa membeda-bedakan. Mereka tahu saya tidak
sama dengan apa yang mereka anut tetapi banyak dari mereka tidak peduli
atau tidak merasa terganggu dengan keyakinan saya.
Saya bertambah dewasa ketika masuk kolej. Saya mendaftar ke kolej
privat dimana banyak pelajarnya adalam Muslim. Sekalipun demikian, saya
masih berusaha untuk melibatkan diri saya dengan aktivitas agama bersama
pelajar-pelajar sesama agama. Dalam komunitas tersebut, trauma konflik
lama timbul kembali, malah semakin buruk.
Akhirnya saya kehilangan minat padanya. Sebagai seorang mahasiswa, saya
lebih nyaman dengan pencarian jiwa. Secara alami, saya mempunyai akses
yang banyak, baik itu rujukan, masa atau tempat-tempat yang menarik,
karena saya tidak pernah merasa berada dirumah dengan saudara saya,
malah dengan kakak-kakak saya. Saya meneruskan saja kehidupan saya
seperti biasa sehingga pengalaman spiritual ini terjadi. Inilah
kisahnya:
Satu pagi, saya tidak
begitu ingat kapan, tetapi ia terjadi pada tahun 1993. Saya terjaga dari
tidur dan terus turun dari tempat tidur dengan segera. Saya bangun
separuh sadar, saya mencuci wajah, tangan dan kaki saya, kemudian duduk
dengan melipat kaki. Kemudian kedengaran azan Subuh…tetapi begitu
berbeda sekali. Saya mendengarnya dengan penuh perasaan dan emosi, ia
menyentuh hati saya sedemikian rupa, ringkasnya, saya tidak dapat
menjelaskannya sendiri apa sebenarnya terjadi pagi itu, itulah yang
terjadi.
Sejak itu saya mulai
mencari jawaban dan belajar dengan teman-teman Muslim, membaca buku,
mula dari awal segalanya. Halangan pertama ialah keluarga saya, terutama
ibu saya. Saya menjadi ragu kembali, ini merupakan pilihan yang paling
sulit sekali dalam seluruh kehidupan saya. Berbulan-bulan lamanya
sebelum saya bisa membuat keputusan untuk memeluk agama Islam. Saya
merasakan betapa perlunya saya membuat pilihan. Akhirnya saya memutuskan
untuk memeluk agama Islam.
Pada
awal tahun 1994, saya mengucapkan syahadah setelah menunaikan shalat
Maghrib secara berjamaah. Hal itu benar-benar emosional, teman-teman
saya difakultas malah meminta saya membuat sebuah statemen bertulis
dengan mereka sebagai saksinya, sungguh menyentuh hati. Ringkasnya, saya
hidup sebagai seorang baru.
Setelah menamatkan sekolah, saya mulai bekerja. Walaupun hubungan saya
dengan keluarga saya putus, saya berusaha untuk menyambungnya kembali
dan bersabar dengan segala kesulitan.
Kehidupan baru saya diuji sekali lagi ketika saya ingin menikah. Karena
saya dianggap murtad dalam pandangan keluarga saya, sehingga saya
terpaksa melakukan segalanya sendiri, meminang, dan sebagainya,
segalanya. Tidak ada acara pernikahan atau yang sepertinya, hanya yang
penting saja. Dan ketika ibu saya menghembuskan nafas terakhir, saya
tidak dapat bertemu dengannya. Dia amat berharap, yang tidak dapat saya
laksanakan ialah untuk saya kembali kepada Kristen. (IRIB Indonesia /
tellmeaboutislam.com)



0 komentar:
Posting Komentar