Rabu, 11 Desember 2013

Kusmari Rendrabwana: Kehidupan Baru Saya Diuji Sekali Lagi Saat Ingin Menikah

Saya dilahir dan dibesarkan dalam sebuah keluarga Katolik yang taat. Ayah saya datang dari keluarga yang kebanyakan merupakan pendeta dan biara, sementara ibu saya masih punya darah aristokrat dalam keluarganya.
 
Kedua orang tua saya dikarunia lima orang anak dimana saya merupakan satu-satunya anak laki-laki mereka dan yang paling bungsu. Saya tidak pernah punya teman untuk bermain, karena sejak kecil jarak usia kami agak jauh; mereka senantiasa sibuk dengan kerja sekolah ketika saya memerlukan teman untuk bermain.
 
Makanya, saya lebih sering bermain dengan penjaga saya dan ketika saya bosan, saya keluar dan bermain. Untuk sebab itu maka saya lebih banyak teman di luar rumah, di luar dari keluarga saya, tetangga yang mayoritasnya Muslim.
 
Dalam keluarga saya, apa saja yang mempunyai 'citarasa Muslim' dianggap tidak sesuai. Maka setiap hari Khamis ketika acara pembacaan Quran (ketika itu kami hanya punya TVRI, milik pemerintah) dan segera saja mereka akan mematikan TV, demikianlah keluarga saya.
 
Ketika sampai usia untuk saya sekolah, secara alami kedua orang tua saya mengantar saya ke sekolah Katolik, seperti kakak-kakak saya. Sekalipun demikian, saya merasa lebih nyaman berteman dengan Muslim.
 
Mungkin karena zaman kecil yang saya lalui, pandangan negatifsenantisa ada pada keluarga saya sering menganggap saya adalah seorang anak yang sulitdiatur. Dengan kata lain, bagi mereka saya adalah seorang yang sering menyalahkan segalanya; apa saja yang saya perbuat baik tidak mendatangkan apa-apa bagi mereka. Maka saya sering saja mencari jawaban bagi masalah saya diluar dari keluarga saya. Catatan akademik saya juga tidak istimewa kecuali Bahasa Inggris saya.
 
Saya mula berpikir dengan persoalan yang saya miliki di sekolah tinggi, saya terus saja bertanya dan bertanya, saya membaca banyak buku, dalam upaya untuk mencari segalanya tentang keimanan saya. Tetapi dengan berlalunya masa, semakin banyak yang saya peroleh, semakin saya merasakan, "Bukan ini, bukan ini yang saya inginkan." Apa yang lebih buruk ialah semakin saya melibatkan diri saya dalam aktivitas agama, semakin jauh saya dari apa yang saya harapkan, yang hanya membuat saya bertambah kecewa.
 
Apa yang saya dapati hampa belaka tetapi itu merupakan pandangan negatif terhadap kepercayaan orang lain. Setiap kali saya berusaha untuk memberikan pandangan lain, mereka mengatakan bahwa saya berpihak, saya terlalu memberikan penilaian, dan sebagainya.
 
Akhirnya, saya semakin jauh dari mereka, tetapi apa yang menarik ialah saya semakin menjadi dekat dengan teman-teman Muslim saya,  mereka tampaknya menerima saya tanpa membeda-bedakan. Mereka tahu saya tidak sama dengan apa yang mereka anut tetapi banyak dari mereka tidak peduli atau tidak merasa terganggu dengan keyakinan saya.
 
Saya bertambah dewasa ketika masuk kolej. Saya mendaftar ke kolej privat dimana banyak pelajarnya adalam Muslim. Sekalipun demikian, saya masih berusaha untuk melibatkan diri saya dengan aktivitas agama bersama pelajar-pelajar sesama agama. Dalam komunitas tersebut, trauma konflik lama timbul kembali, malah semakin buruk.
 
Akhirnya saya kehilangan minat padanya. Sebagai seorang mahasiswa, saya lebih nyaman dengan pencarian jiwa. Secara alami, saya mempunyai akses yang banyak, baik itu rujukan, masa atau tempat-tempat yang menarik, karena saya tidak pernah merasa berada dirumah dengan saudara saya, malah dengan kakak-kakak saya. Saya meneruskan saja kehidupan saya seperti biasa sehingga pengalaman spiritual ini terjadi. Inilah kisahnya:
 
Satu pagi, saya tidak begitu ingat kapan, tetapi ia terjadi pada tahun 1993. Saya terjaga dari tidur dan terus turun dari tempat tidur dengan segera. Saya bangun separuh sadar, saya mencuci wajah, tangan dan kaki saya, kemudian duduk dengan melipat kaki. Kemudian kedengaran azan Subuh…tetapi begitu berbeda sekali. Saya mendengarnya dengan penuh perasaan dan emosi, ia menyentuh hati saya sedemikian rupa, ringkasnya, saya tidak dapat menjelaskannya sendiri apa sebenarnya terjadi pagi itu, itulah yang terjadi.
 
Sejak itu saya mulai mencari jawaban dan belajar dengan teman-teman Muslim,  membaca buku, mula dari awal segalanya. Halangan pertama ialah keluarga saya, terutama ibu saya. Saya menjadi ragu kembali, ini merupakan pilihan yang paling sulit sekali dalam seluruh kehidupan saya. Berbulan-bulan lamanya sebelum saya bisa membuat keputusan untuk memeluk agama Islam. Saya merasakan betapa perlunya saya membuat pilihan. Akhirnya saya memutuskan untuk memeluk agama Islam.
 
Pada awal tahun 1994, saya mengucapkan syahadah setelah menunaikan shalat Maghrib secara berjamaah. Hal itu benar-benar emosional, teman-teman saya difakultas malah meminta saya membuat sebuah statemen bertulis dengan mereka sebagai saksinya, sungguh menyentuh hati. Ringkasnya, saya hidup sebagai seorang baru.
 
Setelah menamatkan sekolah, saya mulai bekerja. Walaupun hubungan saya dengan keluarga saya putus, saya berusaha untuk menyambungnya kembali dan bersabar dengan segala kesulitan.
 
Kehidupan baru saya diuji sekali lagi ketika saya ingin menikah. Karena saya dianggap murtad dalam pandangan keluarga saya, sehingga saya terpaksa melakukan segalanya sendiri, meminang, dan sebagainya, segalanya. Tidak ada acara pernikahan atau yang sepertinya, hanya yang penting saja. Dan ketika ibu saya menghembuskan nafas terakhir, saya tidak dapat bertemu dengannya. Dia amat berharap, yang tidak dapat saya laksanakan ialah untuk saya kembali kepada Kristen. (IRIB Indonesia / tellmeaboutislam.com)

0 komentar:

Posting Komentar