Selasa, 10 Desember 2013

Josh Hasan: Hari Itu Saya Tidak Menjadi Muslim, Tapi Merupakan Hari Terindah

Saya tidak perlu menjadi seorang Muslim. Mungkin, saya bisa jadi seorang Hindu, menyembah 14.321 tuhan dan dewi, seperti dewi untuk anjing tetangga saya, satu lagi untuk bulan, dan satu lagi untuk telinga yang hilang milik Evander Holyfield. Saya mungkin menyembah semua tuhan palsu, dan mungkin juga saya sakit. Sakit di hati dan buta kepada logika mematuhi gajah berwarna merah jambu dengan enam lengan, yang bisa ditemukan di dinding-dinding sebagian dari restoran-restoran India. Ya, mereka menyembah gajah, yang biasanya takut dengan tikus.
Atau mungkin juga saya seorang Kristen, menyembah Nabi Isa as. Tetapi mengapa saya harus menyembah seorang nabi, sesungguhnya, siapakah tidak pernah memanggil dirinya hebat? Adakah dia tahu? Dia tahu, dan saya juga. Nabi Isa bukan Tuhan dan Tuhan bukan Nabi Isa. Saya juga bisa memeluk Buddhisme,
Tetapi manakah agama yang benar? Siapa tahu?
Dan adakah saya ingin mendengar kepada Dalai Lama yang memberitahu saya bagaimana untuk menikmati kehidupan dengan kata-katanya, "Mengambil tiga pelacur dan melakukan perjalanan ke Las Vegas."
Saya tidak menjadi apa-apa seperti diatas, saya tidak akan memilihnya. Saya berubah arah dengan memilih Islam sedangkan saya tidak mengetahui tentangnya sama sekali. Setahun kemudian, saya mengucap syahadah. Saya berharap alangkah baiknya saya melakukannya lebih cepat. Inilah kisah bagaimana saya memeluk agama Islam.
Semuanya bermula ketika saya berusia 10 tahun ketika kedua orang tua saya mendaftarkan saya ke sebuah Sinagog Konservatif lokal, disebuah kota Yahudi Brookline, Massachusetts. Saya diantar ketempat itu untuk belajar Hebrew dan diajar Judaisme. Saya tidak cukup diajar tentang Judaisme.
Guru-guru yang mengajar adalah dari Israel. Sulit untuk saya mengingatinya sekarang, tetapi sebenarnya mereka mengajar saya dengan baik Judaisme. Pada usia 10 tahun, saya benar-benar ikhlas mempercayai Tuhan, membaca kisah-kisah dari Taurat dan Old Testament, dan lebih bertakwa dari orang tua saya. Saya berusaha untuk berdoa dan beristiqamah, walaupun keluarga dan teman-teman saya sepanjang yang saya ingat, mereka tidak pernah berpikir bahwa hal ini memang sesuatu yang penting.
Mengapa mereka tidak peduli? Sekalipun demikian, saya menyimpan erat Yahudi saya. Pada ketika Judaika ini, saya mengingati Kristen, saya berpikir bagaimana banyak teman yang mengikuti orang besar ini, yang namanya banyak sekali digunakan orang secara sia-sia saat mereka menjatuhkan kertas-kertas mereka atau jatuh. Tidakkah seharusnya Nabi Isa, saya pikir, dihormati? Lagi pula, adakah dia putra Tuhan?
Kemudian satu hari, masih berusia 10 tahun, ketika saya membaca berkaitan Yahudi dan Israel, saya menemukan agama baru. Mula-mula saya melihat bulan sabit dan bintang; saya terus membaca. Saya begitu terharu sekali ketika saya dapati bahwa terdapat satu miliarmanusia di dunia ini menyembah Tuhan yang sama dengan saya sembah. Ketika mengingatkannya kini, ia benar-benar luar biasa. Penganut Islam ini membaca Quran, seperti apa yang tertera didalamnya, dan mereka menunaikan haji. Sungguh menarik sekali.
Malangnya, saya tidak bisa menyambung pelajaran saya karena dihalang oleh afinitas untuk Israel. Saya dicuci otak tentang teroris Muslim yang akan meledakkan Yahudi seperti dinamit. Yahudi adalah baik; orang-orang Arab adalah jahat. Itulah yang beritahu oleh teman-teman saya, dan itulah juga yang ditekankan oleh guru-guru saya, dan jarang sekali mendengar tentang Islam sehingga tahun 1995. Keluarga saya menukar sinagog, dan mazhab. Dari konservatif, mereka kini dipanggil  ‘Yahudi Reformis'. Kami menjadi liberal sekali. Rabbi kami bukan kosher. Dia tidak bisa saya anggap sebagai pemimpin spiritual, seorang lelaki yang memimpin yahudi sebagai pengikut Tuhan.
Satu malam, sedang kami berada dalam 'perhimpunan', rabbi kami berusaha untuk membuat kami berjaga. Dia menyebut betapa dia menikmati pandangannya ke arah mahasiswi-mahasiswi Kolej Boston  dari rumahnya. Dia hanya bisa membuat sejumlah orang tertawa. Hari ini, ketika mengenangnya kembali, saya masih ingat bagaimana dia menyebut 'haram' dihadapan isterinya, dihadapan Taurat, dan dihadapan kewujudan Tuhan. Ketidaksenangan saya pada Judaisme mulai timbul, dan saya tahu membuat gerakan religius kearah jalan yang benar tidak dapat dielakkan lagi. Ia hanyalah Judaisme Ortodok.
Saya begitu terkesan dengan spiritual Kristen karena ia tampak berkuasa. Judaisme, sebagaimana yang saya ketahui adalah sebuah agama korup, tetapi saya masih mempercayai Tuhan. Kristen juga mempercayai Tuhan, tidakkah demikian? Saya mengikuti perhimpunan, saya berkata-kata dengan pendeta, tetapi saya paling sulit sekali untuk menerima bahwa Nabi Isa itu Tuhan. Maka saya memaksa diri saya, saya akan menyembah kepada 'putra' dan alangkah kacau sekali. Saya berusaha keras, tetapi saya tahu tidak ada jawabannya.
Saya tidak paham, tetapi saya terus saja belajar katekese dan menyebut Lord's prayer. Saya tidak dibaptis, maka saya bukan seorang Katolik. Malah untuk menjadi seorang Katolik, anda perlu belajar 9 bulan. Apakah akan jadi jika saya mati sebelum sempat menjadi seorang Katolik karena para pendeta tidak membenarkan saya menjadi Kristen? Kemudian apa?
Saya terus melihat kelemahan dan kekurangan yang terdapat dalam ajaran Kristen. Pendeta juga nampak akan kelemahan tersebut, tetapi mereka terus saja berdakwah. Saya tidak. Sekitar 26 Januari 1999, saya meninggalkan kelas konfirmasi. Saya meninggalkan Kristen, walaupun saya bukan seorang Kristen. Saya tidak di 'selamatkan', tetapi saya tidak peduli. Kedua orang tua saya gembira saya meninggalkan Gereja Katolik. Tetapi, saya masih berpegang bahwa Tuhan itu Esa. Sehingga ke hari ini, saya begitu terkejut melihatkan betapa ia cepat sekali berlalu. Tidak sampai satu minggu selepas saya meninggalkan gereja, saya telah bersedia untuk mempelajari agama final Tuhan.
Ayah saya gembira karena melihat lunturnya minat saya terhadap Katolik dan dia menerima Islam dengan tangan terbuka. Sayangnya, dia membawa saya ke perpustakaan. Di sini, saya diperlihatkan Encyclopedia Britannica. Saya membaca tentang Muhammad Saw. Artikel yang terdapat didalamnya menyebut Nabi Muhammad membunuh semua orang Yahudi. Saya benar-benar merasa sedih, dan pada masa yang sama marah dan kebingungan. Saya menjadi marah karena mengetahui bahwa Nabi dari Islam ini telah menyembelih semua Yahudi, dan saya juga menjadi bingung tentang apa yang harus saya lakukan sekarang. Saya Pikir saya telah menolak Islam, tetapi saya masih mempercayai Tuhan. Kemudian apa?
Malah, saya tidak bisa melanjutkan untuk beberapa minggu sebelum kembali. Saya tahu bahwa Judaisme adalah korup, saya tahu juga Kristen korup. Kini saya paham: Encyclopedia Britannica juga korup. Saya mulai mencari sebuah masjid lokal. Malah, secara kebetulan saya bertemu sebuah masjid berdekatan secara tidak sengaja. Saya juga melihat internet. Ketika saya melihat kata Boston, saya terus saja mengkliknya, menanti informasi yang akan membawa saya menyembah Tuhan. Saya menanti, penuh kesabaran dengan modem yang lambat dan tidak punya perasaan, akhirnya, situs pun loaded. Dengan mengetuk tombol mouse, saya disambut dengan Assalamu Alaikum.
Saya mencatat alamat, dan merencanakan perjalanan. Begitu istimewa sekali menemukan sebuah masjid di Bostonsaya merasa senang sekali karena tidak perlu saya pergi ke Mesir atau Jordania atau Yaman. Semua itu terjdisekitar 28 Februari 1999. Saya berjalan di Jalan Prospect, dan melihat Masjid itu. Saya berjalan dihadapannya, saya membuka pintu masuk, dan melihat papan tanda tertulis: Pintu Masuk Wanita. Pintu Masuk Wanita? Sebenarnya saya tidak tahu maksudnya, saya berjalan keliling masjid, dengan harapan menemukan pintu untuk lelaki pula. Tiba-tiba saya merasa takut ketika saya menemukan pintu masuk untuk lelaki. Saya tidak pernah bertemu dengan Muslim religius, dan saya tidak punya ide apakah reaksi Muslim ketika bertemu dengan saya.
Saya pikir adakah saya harus menyembunyikan identitas Yahudi saya. Saya mengambil nafas dan masuk lewat pintu. 'Maaf ya," saya bercakap dengan orang pertama yang saya temui. "Saya datang untuk belajar tentang Islam." Saya menanti reaksinya. Saya menanti untuk dididik atau dibuang keluar. Adakah mereka akan mengusir saya? Saya melepaskan sepatu saya. Dia membuka mulut dan bercakap: "Maaf, saya tidak bisa berbahasa Inggris," dan masuk kedalam ruang tengah. Saya mengikutinya. Saya tidak pasti adakah dia sengaja meninggalkan saya. Saya melihat sekitar, saya melihat ada yang menunaikan shalat. Saya merasa terharu, tetapi saya tidak pasti apakah yang harus saya lakukan.
Kemudian ada seorang lelaki kembali bersama sekumpulan yang lain. Saya duduk. Saya sendirian dan rasanya mereka 50 orang. Mereka semua bercakap dengan saya pada masa yang sama. Luar biasa sekali, merasa sungguh hebat. Ia memperlihatkan betapa pentingnya Islam kepada Muslim. Saya diberi sebuah buku berjudul 'A brief Illustrated Guide to Islam,' dan dalam hitungan menit, saya telah melihat syahada dihadapan mata saya. La Ilaha Illa Allah, Muhammad Rasul Allah.
Saya sudah bersedia untuk mengungkapkannya. Disini dan ketika ini. Sembilan bulan untuk menjadi seorang Katolik, lebih lama dari menjadi seorang Yahudi. Dalam sekelip mata, saya sudah bisa menjadi seorang Muslim. 'Adakah anda sudah yakin? Anda tidak perlu melakukan ini,' nasihat mereka kepada saya. Saya terkejut: adakah ia sedemikian besar sekali sehingga saya harus memikirkannya? Tidakkah seharusnya saya memeluk Islam sekarang?
Pada hari itu, saya tidak menjadi Muslim. Tetapi ia merupakan hari Sabtu yang amat indah. Saya bertemu dengan saudara seislam dari seluruh dunia. Tetapi, walaupun mereka beragam, mereka berbagi pengalaman yang sama, yang begitu jelas yaitu menyembah Tuhan yang Maha Berkuasa.
Sudah lebih dari setahun saya memeluk agama Islam. Pada tahun itu, saya berada di tempat penembakan Bronx, menembusi mobil keluarga saya. Malah, peluru tersebut menghancurkan jendela belakang mobil, beberapa kaki dari kepala saya. Saya selamat tanpa sedikitpun luka, dan tak lama kemudian saya lupa akan kejadian itu.
Pada tanggal 6 Mei, 2000, saya menaiki kereta api yang sering saya naiki untuk ke pergi ke masjid di Cambrige. Kali ini, saya membawa buku tentang bahasa Arab, karena saya pikir adalah baik jika saya belajar bahasa ini. Itu adalah falsafah saya masa itu. Saya mempelajari Islam secara komprehensif. Sejak awal saya mengucapkan syahadah, saya sudah menjadi bijak. Saya bertemu dengan seorang Muslim setelah beberapa bulan selepas itu. Dia bertanya adakah saya sudah memeluk Islam. Kami kemudian berbincang untuk beberapa waktu.
Dia bercakap dengan saya bagaimana kalau saya keluar dijalan kemudian ditabrak, tentunya saya akan mati sebagai non-muslim. Ini bermaksud neraka jahanam. Dia memberitahu perkara yang sama pada bulan Desember 1999, tetapi saya menolaknya, malah setelah kejadian penembakan Bronx. Kali ini, saya tidak lagi memandang kebelakang. Di masjid itu pada hari yang sama, saya duduk, sambil melihat Muslim menunaikan shalat Zuhur.
Saya merenung mereka melakukan sujud, satu perbuatan yang ditolak oleh setan. Dan saya tidak lagi dapat menahan. Saya berpikir bagaimana seandainya saya menjadi Muslim ketika ini juga, tetapi pikiran saya semuanya sepihak. Saya memberitahu salah seorang dari mereka agar selepas mereka selesai shalat bahwa saya ingin menjadi Muslim hari ini. Ketika saya menulis ini, tiga bulan telah berlalu, saya tahu bahwa mengucapkan syahadah adalah perkara terbaik yang pernah saya lakukan. Alangkah baiknya jika saya melakukannya lebih cepat. (IRIB Indonesia / tellmeaboutislam.com)

0 komentar:

Posting Komentar