Atau mungkin juga saya seorang Kristen, menyembah Nabi Isa as. Tetapi
mengapa saya harus menyembah seorang nabi, sesungguhnya, siapakah tidak
pernah memanggil dirinya hebat? Adakah dia tahu? Dia tahu, dan saya
juga. Nabi Isa bukan Tuhan dan Tuhan bukan Nabi Isa. Saya juga bisa
memeluk Buddhisme,
Tetapi manakah agama yang benar? Siapa tahu?
Dan adakah saya ingin mendengar kepada Dalai Lama yang memberitahu saya
bagaimana untuk menikmati kehidupan dengan kata-katanya, "Mengambil
tiga pelacur dan melakukan perjalanan ke Las Vegas."
Saya tidak menjadi apa-apa seperti diatas, saya tidak akan memilihnya.
Saya berubah arah dengan memilih Islam sedangkan saya tidak mengetahui
tentangnya sama sekali. Setahun kemudian, saya mengucap syahadah. Saya
berharap alangkah baiknya saya melakukannya lebih cepat. Inilah kisah
bagaimana saya memeluk agama Islam.
Semuanya bermula ketika saya berusia 10 tahun ketika kedua orang tua
saya mendaftarkan saya ke sebuah Sinagog Konservatif lokal, disebuah
kota Yahudi Brookline, Massachusetts. Saya diantar ketempat itu untuk
belajar Hebrew dan diajar Judaisme. Saya tidak cukup diajar tentang
Judaisme.
Guru-guru yang mengajar
adalah dari Israel. Sulit untuk saya mengingatinya sekarang, tetapi
sebenarnya mereka mengajar saya dengan baik Judaisme. Pada usia 10
tahun, saya benar-benar ikhlas mempercayai Tuhan, membaca kisah-kisah
dari Taurat dan Old Testament, dan lebih bertakwa dari orang tua saya.
Saya berusaha untuk berdoa dan beristiqamah, walaupun keluarga dan
teman-teman saya sepanjang yang saya ingat, mereka tidak pernah berpikir
bahwa hal ini memang sesuatu yang penting.
Mengapa mereka tidak peduli? Sekalipun demikian, saya menyimpan erat
Yahudi saya. Pada ketika Judaika ini, saya mengingati Kristen, saya
berpikir bagaimana banyak teman yang mengikuti orang besar ini, yang
namanya banyak sekali digunakan orang secara sia-sia saat mereka
menjatuhkan kertas-kertas mereka atau jatuh. Tidakkah seharusnya Nabi
Isa, saya pikir, dihormati? Lagi pula, adakah dia putra Tuhan?
Kemudian satu hari, masih berusia 10 tahun, ketika saya membaca
berkaitan Yahudi dan Israel, saya menemukan agama baru. Mula-mula saya
melihat bulan sabit dan bintang; saya terus membaca. Saya begitu terharu
sekali ketika saya dapati bahwa terdapat satu miliarmanusia di dunia
ini menyembah Tuhan yang sama dengan saya sembah. Ketika mengingatkannya
kini, ia benar-benar luar biasa. Penganut Islam ini membaca Quran,
seperti apa yang tertera didalamnya, dan mereka menunaikan haji. Sungguh
menarik sekali.
Malangnya, saya
tidak bisa menyambung pelajaran saya karena dihalang oleh afinitas untuk
Israel. Saya dicuci otak tentang teroris Muslim yang akan meledakkan
Yahudi seperti dinamit. Yahudi adalah baik; orang-orang Arab adalah
jahat. Itulah yang beritahu oleh teman-teman saya, dan itulah juga yang
ditekankan oleh guru-guru saya, dan jarang sekali mendengar tentang
Islam sehingga tahun 1995. Keluarga saya menukar sinagog, dan mazhab.
Dari konservatif, mereka kini dipanggil ‘Yahudi Reformis'. Kami menjadi
liberal sekali. Rabbi kami bukan kosher. Dia tidak bisa saya anggap
sebagai pemimpin spiritual, seorang lelaki yang memimpin yahudi sebagai
pengikut Tuhan.
Satu malam, sedang
kami berada dalam 'perhimpunan', rabbi kami berusaha untuk membuat kami
berjaga. Dia menyebut betapa dia menikmati pandangannya ke arah
mahasiswi-mahasiswi Kolej Boston dari rumahnya. Dia hanya bisa membuat
sejumlah orang tertawa. Hari ini, ketika mengenangnya kembali, saya
masih ingat bagaimana dia menyebut 'haram' dihadapan isterinya,
dihadapan Taurat, dan dihadapan kewujudan Tuhan. Ketidaksenangan saya
pada Judaisme mulai timbul, dan saya tahu membuat gerakan religius
kearah jalan yang benar tidak dapat dielakkan lagi. Ia hanyalah Judaisme
Ortodok.
Saya begitu terkesan
dengan spiritual Kristen karena ia tampak berkuasa. Judaisme,
sebagaimana yang saya ketahui adalah sebuah agama korup, tetapi saya
masih mempercayai Tuhan. Kristen juga mempercayai Tuhan, tidakkah
demikian? Saya mengikuti perhimpunan, saya berkata-kata dengan pendeta,
tetapi saya paling sulit sekali untuk menerima bahwa Nabi Isa itu Tuhan.
Maka saya memaksa diri saya, saya akan menyembah kepada 'putra' dan
alangkah kacau sekali. Saya berusaha keras, tetapi saya tahu tidak ada
jawabannya.
Saya tidak paham,
tetapi saya terus saja belajar katekese dan menyebut Lord's prayer. Saya
tidak dibaptis, maka saya bukan seorang Katolik. Malah untuk menjadi
seorang Katolik, anda perlu belajar 9 bulan. Apakah akan jadi jika saya
mati sebelum sempat menjadi seorang Katolik karena para pendeta tidak
membenarkan saya menjadi Kristen? Kemudian apa?
Saya terus melihat kelemahan dan kekurangan yang terdapat dalam ajaran
Kristen. Pendeta juga nampak akan kelemahan tersebut, tetapi mereka
terus saja berdakwah. Saya tidak. Sekitar 26 Januari 1999, saya
meninggalkan kelas konfirmasi. Saya meninggalkan Kristen, walaupun saya
bukan seorang Kristen. Saya tidak di 'selamatkan', tetapi saya tidak
peduli. Kedua orang tua saya gembira saya meninggalkan Gereja Katolik.
Tetapi, saya masih berpegang bahwa Tuhan itu Esa. Sehingga ke hari ini,
saya begitu terkejut melihatkan betapa ia cepat sekali berlalu. Tidak
sampai satu minggu selepas saya meninggalkan gereja, saya telah bersedia
untuk mempelajari agama final Tuhan.
Ayah saya gembira karena melihat lunturnya minat saya terhadap Katolik
dan dia menerima Islam dengan tangan terbuka. Sayangnya, dia membawa
saya ke perpustakaan. Di sini, saya diperlihatkan Encyclopedia
Britannica. Saya membaca tentang Muhammad Saw. Artikel yang terdapat
didalamnya menyebut Nabi Muhammad membunuh semua orang Yahudi. Saya
benar-benar merasa sedih, dan pada masa yang sama marah dan kebingungan.
Saya menjadi marah karena mengetahui bahwa Nabi dari Islam ini telah
menyembelih semua Yahudi, dan saya juga menjadi bingung tentang apa yang
harus saya lakukan sekarang. Saya Pikir saya telah menolak Islam,
tetapi saya masih mempercayai Tuhan. Kemudian apa?
Malah, saya tidak bisa melanjutkan untuk beberapa minggu sebelum
kembali. Saya tahu bahwa Judaisme adalah korup, saya tahu juga Kristen
korup. Kini saya paham: Encyclopedia Britannica juga korup. Saya mulai
mencari sebuah masjid lokal. Malah, secara kebetulan saya bertemu sebuah
masjid berdekatan secara tidak sengaja. Saya juga melihat internet.
Ketika saya melihat kata Boston, saya terus saja mengkliknya, menanti
informasi yang akan membawa saya menyembah Tuhan. Saya menanti, penuh
kesabaran dengan modem yang lambat dan tidak punya perasaan, akhirnya,
situs pun loaded. Dengan mengetuk tombol mouse, saya disambut dengan
Assalamu Alaikum.
Saya mencatat
alamat, dan merencanakan perjalanan. Begitu istimewa sekali menemukan
sebuah masjid di Bostonsaya merasa senang sekali karena tidak perlu saya
pergi ke Mesir atau Jordania atau Yaman. Semua itu terjdisekitar 28
Februari 1999. Saya berjalan di Jalan Prospect, dan melihat Masjid itu.
Saya berjalan dihadapannya, saya membuka pintu masuk, dan melihat papan
tanda tertulis: Pintu Masuk Wanita. Pintu Masuk Wanita? Sebenarnya saya
tidak tahu maksudnya, saya berjalan keliling masjid, dengan harapan
menemukan pintu untuk lelaki pula. Tiba-tiba saya merasa takut ketika
saya menemukan pintu masuk untuk lelaki. Saya tidak pernah bertemu
dengan Muslim religius, dan saya tidak punya ide apakah reaksi Muslim
ketika bertemu dengan saya.
Saya
pikir adakah saya harus menyembunyikan identitas Yahudi saya. Saya
mengambil nafas dan masuk lewat pintu. 'Maaf ya," saya bercakap dengan
orang pertama yang saya temui. "Saya datang untuk belajar tentang
Islam." Saya menanti reaksinya. Saya menanti untuk dididik atau dibuang
keluar. Adakah mereka akan mengusir saya? Saya melepaskan sepatu saya.
Dia membuka mulut dan bercakap: "Maaf, saya tidak bisa berbahasa
Inggris," dan masuk kedalam ruang tengah. Saya mengikutinya. Saya tidak
pasti adakah dia sengaja meninggalkan saya. Saya melihat sekitar, saya
melihat ada yang menunaikan shalat. Saya merasa terharu, tetapi saya
tidak pasti apakah yang harus saya lakukan.
Kemudian ada seorang lelaki kembali bersama sekumpulan yang lain. Saya
duduk. Saya sendirian dan rasanya mereka 50 orang. Mereka semua bercakap
dengan saya pada masa yang sama. Luar biasa sekali, merasa sungguh
hebat. Ia memperlihatkan betapa pentingnya Islam kepada Muslim. Saya
diberi sebuah buku berjudul 'A brief Illustrated Guide to Islam,' dan
dalam hitungan menit, saya telah melihat syahada dihadapan mata saya. La
Ilaha Illa Allah, Muhammad Rasul Allah.
Saya sudah bersedia untuk mengungkapkannya. Disini dan ketika ini.
Sembilan bulan untuk menjadi seorang Katolik, lebih lama dari menjadi
seorang Yahudi. Dalam sekelip mata, saya sudah bisa menjadi seorang
Muslim. 'Adakah anda sudah yakin? Anda tidak perlu melakukan ini,'
nasihat mereka kepada saya. Saya terkejut: adakah ia sedemikian besar
sekali sehingga saya harus memikirkannya? Tidakkah seharusnya saya
memeluk Islam sekarang?
Pada hari
itu, saya tidak menjadi Muslim. Tetapi ia merupakan hari Sabtu yang amat
indah. Saya bertemu dengan saudara seislam dari seluruh dunia. Tetapi,
walaupun mereka beragam, mereka berbagi pengalaman yang sama, yang
begitu jelas yaitu menyembah Tuhan yang Maha Berkuasa.
Sudah lebih dari setahun saya memeluk agama Islam. Pada tahun itu, saya
berada di tempat penembakan Bronx, menembusi mobil keluarga saya.
Malah, peluru tersebut menghancurkan jendela belakang mobil, beberapa
kaki dari kepala saya. Saya selamat tanpa sedikitpun luka, dan tak lama
kemudian saya lupa akan kejadian itu.
Pada tanggal 6 Mei, 2000, saya menaiki kereta api yang sering saya
naiki untuk ke pergi ke masjid di Cambrige. Kali ini, saya membawa buku
tentang bahasa Arab, karena saya pikir adalah baik jika saya belajar
bahasa ini. Itu adalah falsafah saya masa itu. Saya mempelajari Islam
secara komprehensif. Sejak awal saya mengucapkan syahadah, saya sudah
menjadi bijak. Saya bertemu dengan seorang Muslim setelah beberapa bulan
selepas itu. Dia bertanya adakah saya sudah memeluk Islam. Kami
kemudian berbincang untuk beberapa waktu.
Dia bercakap dengan saya bagaimana kalau saya keluar dijalan kemudian
ditabrak, tentunya saya akan mati sebagai non-muslim. Ini bermaksud
neraka jahanam. Dia memberitahu perkara yang sama pada bulan Desember
1999, tetapi saya menolaknya, malah setelah kejadian penembakan Bronx.
Kali ini, saya tidak lagi memandang kebelakang. Di masjid itu pada hari
yang sama, saya duduk, sambil melihat Muslim menunaikan shalat Zuhur.
Saya merenung mereka melakukan sujud, satu perbuatan yang ditolak oleh
setan. Dan saya tidak lagi dapat menahan. Saya berpikir bagaimana
seandainya saya menjadi Muslim ketika ini juga, tetapi pikiran saya
semuanya sepihak. Saya memberitahu salah seorang dari mereka agar
selepas mereka selesai shalat bahwa saya ingin menjadi Muslim hari ini.
Ketika saya menulis ini, tiga bulan telah berlalu, saya tahu bahwa
mengucapkan syahadah adalah perkara terbaik yang pernah saya lakukan.
Alangkah baiknya jika saya melakukannya lebih cepat. (IRIB Indonesia /
tellmeaboutislam.com)



0 komentar:
Posting Komentar