Rabu, 11 Desember 2013

Kusmari Rendrabwana: Kehidupan Baru Saya Diuji Sekali Lagi Saat Ingin Menikah

Saya dilahir dan dibesarkan dalam sebuah keluarga Katolik yang taat. Ayah saya datang dari keluarga yang kebanyakan merupakan pendeta dan biara, sementara ibu saya masih punya darah aristokrat dalam keluarganya.
 
Kedua orang tua saya dikarunia lima orang anak dimana saya merupakan satu-satunya anak laki-laki mereka dan yang paling bungsu. Saya tidak pernah punya teman untuk bermain, karena sejak kecil jarak usia kami agak jauh; mereka senantiasa sibuk dengan kerja sekolah ketika saya memerlukan teman untuk bermain.
 
Makanya, saya lebih sering bermain dengan penjaga saya dan ketika saya bosan, saya keluar dan bermain. Untuk sebab itu maka saya lebih banyak teman di luar rumah, di luar dari keluarga saya, tetangga yang mayoritasnya Muslim.
 
Dalam keluarga saya, apa saja yang mempunyai 'citarasa Muslim' dianggap tidak sesuai. Maka setiap hari Khamis ketika acara pembacaan Quran (ketika itu kami hanya punya TVRI, milik pemerintah) dan segera saja mereka akan mematikan TV, demikianlah keluarga saya.
 
Ketika sampai usia untuk saya sekolah, secara alami kedua orang tua saya mengantar saya ke sekolah Katolik, seperti kakak-kakak saya. Sekalipun demikian, saya merasa lebih nyaman berteman dengan Muslim.
 
Mungkin karena zaman kecil yang saya lalui, pandangan negatifsenantisa ada pada keluarga saya sering menganggap saya adalah seorang anak yang sulitdiatur. Dengan kata lain, bagi mereka saya adalah seorang yang sering menyalahkan segalanya; apa saja yang saya perbuat baik tidak mendatangkan apa-apa bagi mereka. Maka saya sering saja mencari jawaban bagi masalah saya diluar dari keluarga saya. Catatan akademik saya juga tidak istimewa kecuali Bahasa Inggris saya.
 
Saya mula berpikir dengan persoalan yang saya miliki di sekolah tinggi, saya terus saja bertanya dan bertanya, saya membaca banyak buku, dalam upaya untuk mencari segalanya tentang keimanan saya. Tetapi dengan berlalunya masa, semakin banyak yang saya peroleh, semakin saya merasakan, "Bukan ini, bukan ini yang saya inginkan." Apa yang lebih buruk ialah semakin saya melibatkan diri saya dalam aktivitas agama, semakin jauh saya dari apa yang saya harapkan, yang hanya membuat saya bertambah kecewa.
 
Apa yang saya dapati hampa belaka tetapi itu merupakan pandangan negatif terhadap kepercayaan orang lain. Setiap kali saya berusaha untuk memberikan pandangan lain, mereka mengatakan bahwa saya berpihak, saya terlalu memberikan penilaian, dan sebagainya.
 
Akhirnya, saya semakin jauh dari mereka, tetapi apa yang menarik ialah saya semakin menjadi dekat dengan teman-teman Muslim saya,  mereka tampaknya menerima saya tanpa membeda-bedakan. Mereka tahu saya tidak sama dengan apa yang mereka anut tetapi banyak dari mereka tidak peduli atau tidak merasa terganggu dengan keyakinan saya.
 
Saya bertambah dewasa ketika masuk kolej. Saya mendaftar ke kolej privat dimana banyak pelajarnya adalam Muslim. Sekalipun demikian, saya masih berusaha untuk melibatkan diri saya dengan aktivitas agama bersama pelajar-pelajar sesama agama. Dalam komunitas tersebut, trauma konflik lama timbul kembali, malah semakin buruk.
 
Akhirnya saya kehilangan minat padanya. Sebagai seorang mahasiswa, saya lebih nyaman dengan pencarian jiwa. Secara alami, saya mempunyai akses yang banyak, baik itu rujukan, masa atau tempat-tempat yang menarik, karena saya tidak pernah merasa berada dirumah dengan saudara saya, malah dengan kakak-kakak saya. Saya meneruskan saja kehidupan saya seperti biasa sehingga pengalaman spiritual ini terjadi. Inilah kisahnya:
 
Satu pagi, saya tidak begitu ingat kapan, tetapi ia terjadi pada tahun 1993. Saya terjaga dari tidur dan terus turun dari tempat tidur dengan segera. Saya bangun separuh sadar, saya mencuci wajah, tangan dan kaki saya, kemudian duduk dengan melipat kaki. Kemudian kedengaran azan Subuh…tetapi begitu berbeda sekali. Saya mendengarnya dengan penuh perasaan dan emosi, ia menyentuh hati saya sedemikian rupa, ringkasnya, saya tidak dapat menjelaskannya sendiri apa sebenarnya terjadi pagi itu, itulah yang terjadi.
 
Sejak itu saya mulai mencari jawaban dan belajar dengan teman-teman Muslim,  membaca buku, mula dari awal segalanya. Halangan pertama ialah keluarga saya, terutama ibu saya. Saya menjadi ragu kembali, ini merupakan pilihan yang paling sulit sekali dalam seluruh kehidupan saya. Berbulan-bulan lamanya sebelum saya bisa membuat keputusan untuk memeluk agama Islam. Saya merasakan betapa perlunya saya membuat pilihan. Akhirnya saya memutuskan untuk memeluk agama Islam.
 
Pada awal tahun 1994, saya mengucapkan syahadah setelah menunaikan shalat Maghrib secara berjamaah. Hal itu benar-benar emosional, teman-teman saya difakultas malah meminta saya membuat sebuah statemen bertulis dengan mereka sebagai saksinya, sungguh menyentuh hati. Ringkasnya, saya hidup sebagai seorang baru.
 
Setelah menamatkan sekolah, saya mulai bekerja. Walaupun hubungan saya dengan keluarga saya putus, saya berusaha untuk menyambungnya kembali dan bersabar dengan segala kesulitan.
 
Kehidupan baru saya diuji sekali lagi ketika saya ingin menikah. Karena saya dianggap murtad dalam pandangan keluarga saya, sehingga saya terpaksa melakukan segalanya sendiri, meminang, dan sebagainya, segalanya. Tidak ada acara pernikahan atau yang sepertinya, hanya yang penting saja. Dan ketika ibu saya menghembuskan nafas terakhir, saya tidak dapat bertemu dengannya. Dia amat berharap, yang tidak dapat saya laksanakan ialah untuk saya kembali kepada Kristen. (IRIB Indonesia / tellmeaboutislam.com)

Selasa, 10 Desember 2013

Josh Hasan: Hari Itu Saya Tidak Menjadi Muslim, Tapi Merupakan Hari Terindah

Saya tidak perlu menjadi seorang Muslim. Mungkin, saya bisa jadi seorang Hindu, menyembah 14.321 tuhan dan dewi, seperti dewi untuk anjing tetangga saya, satu lagi untuk bulan, dan satu lagi untuk telinga yang hilang milik Evander Holyfield. Saya mungkin menyembah semua tuhan palsu, dan mungkin juga saya sakit. Sakit di hati dan buta kepada logika mematuhi gajah berwarna merah jambu dengan enam lengan, yang bisa ditemukan di dinding-dinding sebagian dari restoran-restoran India. Ya, mereka menyembah gajah, yang biasanya takut dengan tikus.
Atau mungkin juga saya seorang Kristen, menyembah Nabi Isa as. Tetapi mengapa saya harus menyembah seorang nabi, sesungguhnya, siapakah tidak pernah memanggil dirinya hebat? Adakah dia tahu? Dia tahu, dan saya juga. Nabi Isa bukan Tuhan dan Tuhan bukan Nabi Isa. Saya juga bisa memeluk Buddhisme,
Tetapi manakah agama yang benar? Siapa tahu?
Dan adakah saya ingin mendengar kepada Dalai Lama yang memberitahu saya bagaimana untuk menikmati kehidupan dengan kata-katanya, "Mengambil tiga pelacur dan melakukan perjalanan ke Las Vegas."
Saya tidak menjadi apa-apa seperti diatas, saya tidak akan memilihnya. Saya berubah arah dengan memilih Islam sedangkan saya tidak mengetahui tentangnya sama sekali. Setahun kemudian, saya mengucap syahadah. Saya berharap alangkah baiknya saya melakukannya lebih cepat. Inilah kisah bagaimana saya memeluk agama Islam.
Semuanya bermula ketika saya berusia 10 tahun ketika kedua orang tua saya mendaftarkan saya ke sebuah Sinagog Konservatif lokal, disebuah kota Yahudi Brookline, Massachusetts. Saya diantar ketempat itu untuk belajar Hebrew dan diajar Judaisme. Saya tidak cukup diajar tentang Judaisme.
Guru-guru yang mengajar adalah dari Israel. Sulit untuk saya mengingatinya sekarang, tetapi sebenarnya mereka mengajar saya dengan baik Judaisme. Pada usia 10 tahun, saya benar-benar ikhlas mempercayai Tuhan, membaca kisah-kisah dari Taurat dan Old Testament, dan lebih bertakwa dari orang tua saya. Saya berusaha untuk berdoa dan beristiqamah, walaupun keluarga dan teman-teman saya sepanjang yang saya ingat, mereka tidak pernah berpikir bahwa hal ini memang sesuatu yang penting.
Mengapa mereka tidak peduli? Sekalipun demikian, saya menyimpan erat Yahudi saya. Pada ketika Judaika ini, saya mengingati Kristen, saya berpikir bagaimana banyak teman yang mengikuti orang besar ini, yang namanya banyak sekali digunakan orang secara sia-sia saat mereka menjatuhkan kertas-kertas mereka atau jatuh. Tidakkah seharusnya Nabi Isa, saya pikir, dihormati? Lagi pula, adakah dia putra Tuhan?
Kemudian satu hari, masih berusia 10 tahun, ketika saya membaca berkaitan Yahudi dan Israel, saya menemukan agama baru. Mula-mula saya melihat bulan sabit dan bintang; saya terus membaca. Saya begitu terharu sekali ketika saya dapati bahwa terdapat satu miliarmanusia di dunia ini menyembah Tuhan yang sama dengan saya sembah. Ketika mengingatkannya kini, ia benar-benar luar biasa. Penganut Islam ini membaca Quran, seperti apa yang tertera didalamnya, dan mereka menunaikan haji. Sungguh menarik sekali.
Malangnya, saya tidak bisa menyambung pelajaran saya karena dihalang oleh afinitas untuk Israel. Saya dicuci otak tentang teroris Muslim yang akan meledakkan Yahudi seperti dinamit. Yahudi adalah baik; orang-orang Arab adalah jahat. Itulah yang beritahu oleh teman-teman saya, dan itulah juga yang ditekankan oleh guru-guru saya, dan jarang sekali mendengar tentang Islam sehingga tahun 1995. Keluarga saya menukar sinagog, dan mazhab. Dari konservatif, mereka kini dipanggil  ‘Yahudi Reformis'. Kami menjadi liberal sekali. Rabbi kami bukan kosher. Dia tidak bisa saya anggap sebagai pemimpin spiritual, seorang lelaki yang memimpin yahudi sebagai pengikut Tuhan.
Satu malam, sedang kami berada dalam 'perhimpunan', rabbi kami berusaha untuk membuat kami berjaga. Dia menyebut betapa dia menikmati pandangannya ke arah mahasiswi-mahasiswi Kolej Boston  dari rumahnya. Dia hanya bisa membuat sejumlah orang tertawa. Hari ini, ketika mengenangnya kembali, saya masih ingat bagaimana dia menyebut 'haram' dihadapan isterinya, dihadapan Taurat, dan dihadapan kewujudan Tuhan. Ketidaksenangan saya pada Judaisme mulai timbul, dan saya tahu membuat gerakan religius kearah jalan yang benar tidak dapat dielakkan lagi. Ia hanyalah Judaisme Ortodok.
Saya begitu terkesan dengan spiritual Kristen karena ia tampak berkuasa. Judaisme, sebagaimana yang saya ketahui adalah sebuah agama korup, tetapi saya masih mempercayai Tuhan. Kristen juga mempercayai Tuhan, tidakkah demikian? Saya mengikuti perhimpunan, saya berkata-kata dengan pendeta, tetapi saya paling sulit sekali untuk menerima bahwa Nabi Isa itu Tuhan. Maka saya memaksa diri saya, saya akan menyembah kepada 'putra' dan alangkah kacau sekali. Saya berusaha keras, tetapi saya tahu tidak ada jawabannya.
Saya tidak paham, tetapi saya terus saja belajar katekese dan menyebut Lord's prayer. Saya tidak dibaptis, maka saya bukan seorang Katolik. Malah untuk menjadi seorang Katolik, anda perlu belajar 9 bulan. Apakah akan jadi jika saya mati sebelum sempat menjadi seorang Katolik karena para pendeta tidak membenarkan saya menjadi Kristen? Kemudian apa?
Saya terus melihat kelemahan dan kekurangan yang terdapat dalam ajaran Kristen. Pendeta juga nampak akan kelemahan tersebut, tetapi mereka terus saja berdakwah. Saya tidak. Sekitar 26 Januari 1999, saya meninggalkan kelas konfirmasi. Saya meninggalkan Kristen, walaupun saya bukan seorang Kristen. Saya tidak di 'selamatkan', tetapi saya tidak peduli. Kedua orang tua saya gembira saya meninggalkan Gereja Katolik. Tetapi, saya masih berpegang bahwa Tuhan itu Esa. Sehingga ke hari ini, saya begitu terkejut melihatkan betapa ia cepat sekali berlalu. Tidak sampai satu minggu selepas saya meninggalkan gereja, saya telah bersedia untuk mempelajari agama final Tuhan.
Ayah saya gembira karena melihat lunturnya minat saya terhadap Katolik dan dia menerima Islam dengan tangan terbuka. Sayangnya, dia membawa saya ke perpustakaan. Di sini, saya diperlihatkan Encyclopedia Britannica. Saya membaca tentang Muhammad Saw. Artikel yang terdapat didalamnya menyebut Nabi Muhammad membunuh semua orang Yahudi. Saya benar-benar merasa sedih, dan pada masa yang sama marah dan kebingungan. Saya menjadi marah karena mengetahui bahwa Nabi dari Islam ini telah menyembelih semua Yahudi, dan saya juga menjadi bingung tentang apa yang harus saya lakukan sekarang. Saya Pikir saya telah menolak Islam, tetapi saya masih mempercayai Tuhan. Kemudian apa?
Malah, saya tidak bisa melanjutkan untuk beberapa minggu sebelum kembali. Saya tahu bahwa Judaisme adalah korup, saya tahu juga Kristen korup. Kini saya paham: Encyclopedia Britannica juga korup. Saya mulai mencari sebuah masjid lokal. Malah, secara kebetulan saya bertemu sebuah masjid berdekatan secara tidak sengaja. Saya juga melihat internet. Ketika saya melihat kata Boston, saya terus saja mengkliknya, menanti informasi yang akan membawa saya menyembah Tuhan. Saya menanti, penuh kesabaran dengan modem yang lambat dan tidak punya perasaan, akhirnya, situs pun loaded. Dengan mengetuk tombol mouse, saya disambut dengan Assalamu Alaikum.
Saya mencatat alamat, dan merencanakan perjalanan. Begitu istimewa sekali menemukan sebuah masjid di Bostonsaya merasa senang sekali karena tidak perlu saya pergi ke Mesir atau Jordania atau Yaman. Semua itu terjdisekitar 28 Februari 1999. Saya berjalan di Jalan Prospect, dan melihat Masjid itu. Saya berjalan dihadapannya, saya membuka pintu masuk, dan melihat papan tanda tertulis: Pintu Masuk Wanita. Pintu Masuk Wanita? Sebenarnya saya tidak tahu maksudnya, saya berjalan keliling masjid, dengan harapan menemukan pintu untuk lelaki pula. Tiba-tiba saya merasa takut ketika saya menemukan pintu masuk untuk lelaki. Saya tidak pernah bertemu dengan Muslim religius, dan saya tidak punya ide apakah reaksi Muslim ketika bertemu dengan saya.
Saya pikir adakah saya harus menyembunyikan identitas Yahudi saya. Saya mengambil nafas dan masuk lewat pintu. 'Maaf ya," saya bercakap dengan orang pertama yang saya temui. "Saya datang untuk belajar tentang Islam." Saya menanti reaksinya. Saya menanti untuk dididik atau dibuang keluar. Adakah mereka akan mengusir saya? Saya melepaskan sepatu saya. Dia membuka mulut dan bercakap: "Maaf, saya tidak bisa berbahasa Inggris," dan masuk kedalam ruang tengah. Saya mengikutinya. Saya tidak pasti adakah dia sengaja meninggalkan saya. Saya melihat sekitar, saya melihat ada yang menunaikan shalat. Saya merasa terharu, tetapi saya tidak pasti apakah yang harus saya lakukan.
Kemudian ada seorang lelaki kembali bersama sekumpulan yang lain. Saya duduk. Saya sendirian dan rasanya mereka 50 orang. Mereka semua bercakap dengan saya pada masa yang sama. Luar biasa sekali, merasa sungguh hebat. Ia memperlihatkan betapa pentingnya Islam kepada Muslim. Saya diberi sebuah buku berjudul 'A brief Illustrated Guide to Islam,' dan dalam hitungan menit, saya telah melihat syahada dihadapan mata saya. La Ilaha Illa Allah, Muhammad Rasul Allah.
Saya sudah bersedia untuk mengungkapkannya. Disini dan ketika ini. Sembilan bulan untuk menjadi seorang Katolik, lebih lama dari menjadi seorang Yahudi. Dalam sekelip mata, saya sudah bisa menjadi seorang Muslim. 'Adakah anda sudah yakin? Anda tidak perlu melakukan ini,' nasihat mereka kepada saya. Saya terkejut: adakah ia sedemikian besar sekali sehingga saya harus memikirkannya? Tidakkah seharusnya saya memeluk Islam sekarang?
Pada hari itu, saya tidak menjadi Muslim. Tetapi ia merupakan hari Sabtu yang amat indah. Saya bertemu dengan saudara seislam dari seluruh dunia. Tetapi, walaupun mereka beragam, mereka berbagi pengalaman yang sama, yang begitu jelas yaitu menyembah Tuhan yang Maha Berkuasa.
Sudah lebih dari setahun saya memeluk agama Islam. Pada tahun itu, saya berada di tempat penembakan Bronx, menembusi mobil keluarga saya. Malah, peluru tersebut menghancurkan jendela belakang mobil, beberapa kaki dari kepala saya. Saya selamat tanpa sedikitpun luka, dan tak lama kemudian saya lupa akan kejadian itu.
Pada tanggal 6 Mei, 2000, saya menaiki kereta api yang sering saya naiki untuk ke pergi ke masjid di Cambrige. Kali ini, saya membawa buku tentang bahasa Arab, karena saya pikir adalah baik jika saya belajar bahasa ini. Itu adalah falsafah saya masa itu. Saya mempelajari Islam secara komprehensif. Sejak awal saya mengucapkan syahadah, saya sudah menjadi bijak. Saya bertemu dengan seorang Muslim setelah beberapa bulan selepas itu. Dia bertanya adakah saya sudah memeluk Islam. Kami kemudian berbincang untuk beberapa waktu.
Dia bercakap dengan saya bagaimana kalau saya keluar dijalan kemudian ditabrak, tentunya saya akan mati sebagai non-muslim. Ini bermaksud neraka jahanam. Dia memberitahu perkara yang sama pada bulan Desember 1999, tetapi saya menolaknya, malah setelah kejadian penembakan Bronx. Kali ini, saya tidak lagi memandang kebelakang. Di masjid itu pada hari yang sama, saya duduk, sambil melihat Muslim menunaikan shalat Zuhur.
Saya merenung mereka melakukan sujud, satu perbuatan yang ditolak oleh setan. Dan saya tidak lagi dapat menahan. Saya berpikir bagaimana seandainya saya menjadi Muslim ketika ini juga, tetapi pikiran saya semuanya sepihak. Saya memberitahu salah seorang dari mereka agar selepas mereka selesai shalat bahwa saya ingin menjadi Muslim hari ini. Ketika saya menulis ini, tiga bulan telah berlalu, saya tahu bahwa mengucapkan syahadah adalah perkara terbaik yang pernah saya lakukan. Alangkah baiknya jika saya melakukannya lebih cepat. (IRIB Indonesia / tellmeaboutislam.com)

Hannah Snider: Islam Bukan Milik Kita, Tapi Milik Umat Manusia!

Saya memeluk Islam pada tanggal 27 Mei 2011 di masjid yang dipenuhi banyak orang. Bagaimanapun, saya tidak menjadi Muslim pada hari itu. Saya telah menjadi Muslim di seluruh kehidupan saya, hanya saya tidak menyadarinya. Saya senantiasa mempercayai Keesaan Tuhan dan Tuhan saja. Perkara ini merupakan hal yang paling mendasar, tetapi juga tiang agama yang paling penting. Alasan mengapa saya tidak mengetahui bahwa saya adalah seorang Muslim karena tidak ada siapapun yang memberitahu saya. Saya punya rekan sekamar yang beragama Islam, menemui banyak Muslim, tetapi tidak ada siapapun yang pernah memberitahu saya apakah yang diyakini oleh Muslim. Selama ini saya mempercayai Islam, tetapi tidak punya ide bahwa apa yang saya percaya sama dengan apa yang diyakini oleh jutaan orang disekitar saya.
 
Akhirnya, setelah bertahun-tahun berusaha untuk memahami keimanan saya, selepas menghadiri berbagai servis agama dan hanya bisa meyakini sebagian dari apa yang saya dengar, seorang teman baik bertanya dengan saya apakah agama saya. Kami sudah agak lama bertemantetapi saya tidak pernah bertanya apakah agamanya. Saya menjelaskan pegangan saya, bahwa saya mempercayai keberadaan Tuhan, bukan Trinitas, dan saya menyakini akan surga dan malaikat, tetapi saya juga mengatakan bahwa ia tidak punya nama agama dan saya  tidak tahu namanya. Dia memberitahu saya bahwa saya berada dalam kealpaan sepanjang masa ini dan segala kepercayaan saya konsisten dengan kepercayaannya sebagai seorang Muslim.
 
Pada mulanya saya pikir dia hanya berusaha untuk memperlihatkan Islam sebagai sesuatu yang baik. Dalam upaya menjelaskan keyakinannya, dia mengenalkan saya ayat-ayat dari al-Quran dan saya menyetujuinya. Saya pikir dia hanya memetik dan memilih ayat-ayat yang terbaik dalam upaya untuk membuat saya meminatinya. Saya kemudiannya membeli sendiri sebuah al-Quran dalam usaha untuk mencari sesuatu yang tidak saya sesuai dengan saya. Saya tidak dapat mencari walaupun satu ayat. Saya menyetujui kesemuanya. Saya dapat memahami mengapa ayat-ayat itu seperti mukjizat. Semua ayat merupakan mukjizat. Malah, setiap kata adalah mukjizat.
 
Ini merupakan sebuah mukjizat dalam kehidupan saya, selepas mencari selama 20 tahun, selepas berada dalam kebingungan, selepas memikirkan bahwa saya tidak mungkin menemukan siapa yang punya keyakinan seperti saya, saya menemukan Allah swt lewat kehendak-Nya. Bagian yang terbaik ialah Allah senantiasa bersama saya. Saya akan berjaga sampai lewat malam untuk membaca al-Quran dan menangis karena mengetahui bahwa apa yang saya baca adalah benar. Saya memikirkan betapa indahnya Allah Swt telah memberikan kepada para nabi mukjizat untuk dilihat oleh umatnya, tetapi memberikan Nabi Muhammad Saw sebuah mukjizat yang bisa saya pegang setiap hari, yaitu al-Quran.
 
Saya tahu bahwa diri saya adalah seorang muslim dan saya tahu bahwa saya begitu beruntung karena Allah Swt menginginkan saya, seorang pelajar kolej berusia 20 tahun, untuk datang kepada-Nya. Betapa beruntungnya diriku? Dan bagaimana bisa saya melakukan perkara lain selain dari mencari segala ilmu dan keimanan ketika saya dipilih oleh-Nya untuk memeluk Islam?
 
Ada sebuah hadis yang menyebutkan,"Jika anda menghampiri Allah sejengkal, Allah akan menghampiri kalian sehasta, jika kalian menghampiri Allah sehasta, Allah akan menghampiri kalian sedepa. Dan jika anda berjalan kepada-Nya, Allah akan berlari kepada anda. Saya menghampirinya kilometer demi kilometer dan Allah melampaui upaya saya. Saya berlari kepada-Nya, dan Allah demikian cepat kearah saya secepat kilat.
 
Saya tidaklah mengatakan bahwa tidak ada waktunya saya ketakutan. Orang-orang Amerika tidak begitu menyenangi Muslim, dan selepas segala gambaran negatif yang dilakukan oleh media, saya menjangkakan bahwa teman-teman saya akan turut mempunyai perasaan yang sama. Sebagian memang sedemikian dan saya tidak keberatan melepaskan mereka sebagai teman. Seorang teman seharusnya menerima anda seadanya, dan juga mereka seharusnya mendekatkan anda kepada Tuhan. Menghabiskan waktu bersama mereka membuat saya sadar bahwa mereka bukanlah yang terbaik buat saya, saya lebih senang mempunyai teman yang seagama dengan saya.
 
Ketika tiba waktu shalat, saya bisa melakukan shalat tanpa memberikan penjelasan. Ketika terlihat seseorang yang berbeda dijalan, kita tidak melakukan penilaian kepada mereka, berlawanan dengan menganggu atau mengejek mereka seperti apa yang teman dan saya lakukan dulu. Ini tidak bermaksud saya tidak berdoa untuk mereka.
 
Ada teman-teman yang memberikan dukungan kepada saya dan mencintai saya tanpa melihat apa yang saya pilih, dan untuk mereka ini, saya berterima kasih. Saya hanya bisa berharap Allah Swt akan membimbing mereka. Apa yang mengejutkan ialah saya dapati mereka ini benar-benar tidak mengetahui tentang Islam, dan adakalanya tentang agama yang mereka anuti sendiri. Saya memang jahil tentang Islam sebelum saya memeluk Islam, tetapi saya tidak terpikir bahwa teman-teman saya juga sama jahilnya dengan saya tentang Islam dan agama mereka sendiri!
 
Kehormatan terbesar dalam kehidupan saya ialah memeluk agama Islam. Kemuliaan kedua bagi saya ialah menjelaskan Islam kepada orang lain. Saya bersyukur karena orang-orang merasa nyaman disekitar saya di toko, dalam antrian di Subway, atau di kantor saya, atau di taman menanyakan keyakinan saya. Saya sungguh berharap bahwa saya cukup pandai berbicara untuk menjelaskan tentang agama saya.
 
Tidak ada perkara lain yang begitu saya cintai dari berbicara tentang apa yang saya yakini dan mengapa saya menyakininya. Saya tidak bisa memaksa orang lain mempercayai Islam,"Tidak ada paksaan untuk memasuki Islam; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang salah." (Quran 2.256). Sekaliun demikian, saya bisa memberitahu orang lain yang tidak memahami Islam. Saya tidak bisa mengajar iman, karena ianya hanya berada dalam hati dan antara anda dan Allah Swt, tetapi saya bisa mengajar agama dan pesan-Nya. Ajaran ini, dakwah ini, merupakan bagian penting Islam. Islam bukan milik kita, ia merupakan milik semua manusia. Islam dan Nabi Muhammad Saw merupakan rahmat bagi seluruh dunia.
 
Saya pernah ditegur, "kembalilah kenegeri anda" di tempat parkir WalMart. Saya membalas kembali, "Saya berasal dari Cleveland!" Saya juga pernah diberitahu 'diamlah' ketika makan es krim dengan teman-teman muslim saya tanpa alasan sedikitpun. Saya juga bertemu orang yang memastikan anak-anak mereka tidak berjalan berhampiran saya di restoran. Saya juga diberitahu oleh orang bahwa Nabi Isa mencintai saya dan saya balas kembali, 'Saya juga mencintainya!' Saya juga bertemu dengan seorang wanita yang mengatakan betapa dia merasa jelek dengan cara saya berpakaian. Ketika itu saya mengenakan pakaian panjang dan baju berleher tinggi manaka dia mengenakan tube top dan rok mini. Saya membalas kembali, sayang, saya merasakan lebih buruk untuk anda. Saya juga menemukan orang tua yang memberitahu anak-anak mereka bahwa saya mengenakan hijab karena saya diserang kanker. Semua baik-baik saja. Seandainya orang ini tahu bahwa kedamaian yang terdapat dalam hati kita, sudah tentu mereka akan memperjuangkan kita untuknya.
 
Saya berharap untuk mengenalkan Islam kepada banyak orang, dan saya berharap agar lebih banyak lagi yang berpikiran terbuka untuk belajar, dan saya berharap saya bisa melanjutkan pelajaran untuk selamanya. Saya mengalakkan penduduk Muslim untuk mengenal orang lain dari berbagai budaya dan agama serta menjelaskan agama kita. Tidak perlu mengisolasi diri, alangkah indahnya jika saja kita dapat berbicara sendiri dan membiarkan orang lain berbicara untukkita. Semoga Allah swt terus merahmati kita dengan iman dan insya Allah kita semua akan saling tertarik untuk menghampiri Allah Swt.
 
Sesungguhnya semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. (Quran 2.156) (IRIB Indonesia / myfellowamerican.us)

Jacian Fares: Kini Saya Memahami Cara Mereka Hidup!

Nama saya Jacian Fares. Saya datang dari keluarga al-Fares Hebron. Ayahsaya berasal dari Lebanon, sementara ibu saya datang dari Spanyol. Saya merupakan generasi pertama yang lahir di Amerika (Dearbon, Michigan tepatnya).

Ayahsaya tidak begitu peduli dengan agama maupun mengamalkannya, walaupun kakek-nenek saya merupakan Muslim yang taat. Saya dapat bayangkan pilihannya dan jalan kehidupannya yang membuat hati kakek dan nenek terluka. Saya dan adik beradik saya lahir tanpa agama yang spesifik. Kami dibesarkan sebagai anak-anak Amerika.
Dalam kondisi terpaksa, hanya saya dari kami bertiga yang tinggal di Lebanon selama enam tahun. Ketika itu saya berusia remaja. Saya bisa menyebutnya sebagai pertemuan pertama saya dengan budaya Timur Tengah.

Fase kedua kehidupan saya ketika saya berada dalam Marine Corps Amerika. Saya turut terlibat dalam serangan ke Irak – bukanlah karena saya menyetujuinya, tetapi karena saya adalah seorang tentara yang hanya menjalankan tugas.

Saya mengenali orang-orang lokal, ketika berada di Fallujah dan berbagai kawasan di al-Anbar. Saya menyaksikan orang-orang Arab ketika bulan Ramadhan selama bertahun-tahun. Saya melihat betapa mereka begitu patuh kepada agama mereka.

Malangnya saya terkena peluru tembakan di Irak dan kehilangan satu ginjal – dengan kehendak Allah. Saya senantiasa percaya bahwa apa yang terjadipunya alasannya sendiri. Ketika kembali ke rumah saya merasa depresidan merasakan bahwa saya tidak memiliki apa-apa untuk saya ikuti. Saya terbiasa dengan rutinitaskehidupan dan semuanyatelah diambil dari saya. Hubungan saya saat itu sedang berada ditahap paling rendah. Saya sendirian. Kakek dan nenek saya mengisyaratkan Islam, demikian juga bibisaya. Pada bulan Augustus 2008 saya membaca Quran. Ia begitu mempesonakan. Iabegitu masuk akal buat saya, lebih dari apa yang terdapat Injil atau Taurat. Ia begitu tepat sekali. Kehidupan Muslim tersusun. Saya perlukan perubahan ini, untuk mencari diri saya sendiri.

Sesungguhnya al-Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.(Quran 17;9)

Akhirnya saya mempunyai rutinitas. Saya mempunyai sebab untuk hidup dan membuat kehidupan saya menjadi lebih baik. Saya bisa mengatakan bahwa saya telah mendapat banyakteman dalam beberapa tahun ini, semuanya dari berbagai negara Timur Tengah; dari Mesir, Palestina, Jordania, dan Qatar. Mereka merupakan teman-teman yang telah membantu saya mengembangkan diri saya seperti hari ini. Saya sungguh bersyukur karenanya.

Tahun ini saya menyaksikan Ramadhan untuk kali kedua. Saya tidak dapat menunaikan puasa karena diabetes juvenile yang saya idapi. Tetapi saya mendermakan makanan, uang dan waktuuntuk orang-orang yang memerlukan selama tiga puluh hari. Dan tahun ini benar-benar istimewa karena hari lahir saya jatuh pada hari raya puasa.

Dan ketika saya berada di Amerika, saya tidak lagi sendirian. Orang-orang yang berada dalam komunitas Muslim melayani saya seperti mana mereka melayani anggota keluarga yang lain. Dan saya ingin mengatakan bahwa kehidupan yang kami lalui, cara hidup Islam, telah membawa kami bersama. Ia membawa kami bersama dan membuat kami saudara antara satu dengan yang lain, tanpa ada pesta-pesta.

Saya berjanji bahwa saya akan melayani orang lain sama seperti saya melayani saudara saya, membantu mereka yang memerlukan, juga pada waktu-waktu tanpa tujuan yang tertentu. Saya akan melakukan hal ini setiap hari dalam kehidupan saya.

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang ajuh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga banggakan diri.(Quran 4:36)

Saya begitu mencintai bulan Ramadhan dan nilai apa yang dikandungnya. Ia mengingatkan kita apakah itu Muslim yang baik. Saya sarankan bahwa kita menganggap setiap hari dari kehidupan kita seperti dalam bulan Ramadhan dan berbagi sesama antara kita lelaki dan perempuan.

Sebagai Muslim kita akan membuat dunia ini tempat yang lebih baik, tanpa membayangkan pandangan orang-orang yang jahil tentang pegangan kita, kita bisa membuat dunia ini tempat yang lebih baik.

Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.(Quran 7:199)

Kita tidak harus memaksakan kepercayaan kita kepada orang lain, tetapi kita harus memberikan informasi bagi mereka yang berminat dengan cara yang betul. Demikianlah cara yang mereka lakukan keatas diri saya; saya telah melalui jalan yang jauh ini dengan bantuan dan kerjasama saudara-saudara se-Islam saya, teman-teman dan keluarga dalam Islam.

Saya memilih Islam karena ia merupakan bagian diri saya. Saya kembali semula kepada kepercayaan kakek dan nenek saya. Kini saya memahami cara mereka hidup. Ini adalah karena mereka menyarankan kepada saya untuk membaca Quran. Saya gembira dan bangga dengan apa yang telah saya lakukan. Quran telah membawa saya mencari diri saya sendiri. Dan kini tuhan saya mempunyai nama: Allah.

Saya menyarankan kepada non Muslim untuk membuka pikiran mereka dan melihat apa yang terdapat dalam Quran. Terdapat banyak sekali didalamnya, jika anda membacanya dengan mata terbuka. Quran merupakan sarana dan bimbingan yang harus kita pergunakan untuk hidup dengan cara yang benar. Ia mempromosi kedamaian, cinta, dan keyakinan kokoh kepada Allah Swt.

Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir. Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.(Quran 90:12-17) (IRIB Indonesia / tellmeaboutislam.com)