Selasa, 10 Desember 2013

Hannah Snider: Islam Bukan Milik Kita, Tapi Milik Umat Manusia!

Saya memeluk Islam pada tanggal 27 Mei 2011 di masjid yang dipenuhi banyak orang. Bagaimanapun, saya tidak menjadi Muslim pada hari itu. Saya telah menjadi Muslim di seluruh kehidupan saya, hanya saya tidak menyadarinya. Saya senantiasa mempercayai Keesaan Tuhan dan Tuhan saja. Perkara ini merupakan hal yang paling mendasar, tetapi juga tiang agama yang paling penting. Alasan mengapa saya tidak mengetahui bahwa saya adalah seorang Muslim karena tidak ada siapapun yang memberitahu saya. Saya punya rekan sekamar yang beragama Islam, menemui banyak Muslim, tetapi tidak ada siapapun yang pernah memberitahu saya apakah yang diyakini oleh Muslim. Selama ini saya mempercayai Islam, tetapi tidak punya ide bahwa apa yang saya percaya sama dengan apa yang diyakini oleh jutaan orang disekitar saya.
 
Akhirnya, setelah bertahun-tahun berusaha untuk memahami keimanan saya, selepas menghadiri berbagai servis agama dan hanya bisa meyakini sebagian dari apa yang saya dengar, seorang teman baik bertanya dengan saya apakah agama saya. Kami sudah agak lama bertemantetapi saya tidak pernah bertanya apakah agamanya. Saya menjelaskan pegangan saya, bahwa saya mempercayai keberadaan Tuhan, bukan Trinitas, dan saya menyakini akan surga dan malaikat, tetapi saya juga mengatakan bahwa ia tidak punya nama agama dan saya  tidak tahu namanya. Dia memberitahu saya bahwa saya berada dalam kealpaan sepanjang masa ini dan segala kepercayaan saya konsisten dengan kepercayaannya sebagai seorang Muslim.
 
Pada mulanya saya pikir dia hanya berusaha untuk memperlihatkan Islam sebagai sesuatu yang baik. Dalam upaya menjelaskan keyakinannya, dia mengenalkan saya ayat-ayat dari al-Quran dan saya menyetujuinya. Saya pikir dia hanya memetik dan memilih ayat-ayat yang terbaik dalam upaya untuk membuat saya meminatinya. Saya kemudiannya membeli sendiri sebuah al-Quran dalam usaha untuk mencari sesuatu yang tidak saya sesuai dengan saya. Saya tidak dapat mencari walaupun satu ayat. Saya menyetujui kesemuanya. Saya dapat memahami mengapa ayat-ayat itu seperti mukjizat. Semua ayat merupakan mukjizat. Malah, setiap kata adalah mukjizat.
 
Ini merupakan sebuah mukjizat dalam kehidupan saya, selepas mencari selama 20 tahun, selepas berada dalam kebingungan, selepas memikirkan bahwa saya tidak mungkin menemukan siapa yang punya keyakinan seperti saya, saya menemukan Allah swt lewat kehendak-Nya. Bagian yang terbaik ialah Allah senantiasa bersama saya. Saya akan berjaga sampai lewat malam untuk membaca al-Quran dan menangis karena mengetahui bahwa apa yang saya baca adalah benar. Saya memikirkan betapa indahnya Allah Swt telah memberikan kepada para nabi mukjizat untuk dilihat oleh umatnya, tetapi memberikan Nabi Muhammad Saw sebuah mukjizat yang bisa saya pegang setiap hari, yaitu al-Quran.
 
Saya tahu bahwa diri saya adalah seorang muslim dan saya tahu bahwa saya begitu beruntung karena Allah Swt menginginkan saya, seorang pelajar kolej berusia 20 tahun, untuk datang kepada-Nya. Betapa beruntungnya diriku? Dan bagaimana bisa saya melakukan perkara lain selain dari mencari segala ilmu dan keimanan ketika saya dipilih oleh-Nya untuk memeluk Islam?
 
Ada sebuah hadis yang menyebutkan,"Jika anda menghampiri Allah sejengkal, Allah akan menghampiri kalian sehasta, jika kalian menghampiri Allah sehasta, Allah akan menghampiri kalian sedepa. Dan jika anda berjalan kepada-Nya, Allah akan berlari kepada anda. Saya menghampirinya kilometer demi kilometer dan Allah melampaui upaya saya. Saya berlari kepada-Nya, dan Allah demikian cepat kearah saya secepat kilat.
 
Saya tidaklah mengatakan bahwa tidak ada waktunya saya ketakutan. Orang-orang Amerika tidak begitu menyenangi Muslim, dan selepas segala gambaran negatif yang dilakukan oleh media, saya menjangkakan bahwa teman-teman saya akan turut mempunyai perasaan yang sama. Sebagian memang sedemikian dan saya tidak keberatan melepaskan mereka sebagai teman. Seorang teman seharusnya menerima anda seadanya, dan juga mereka seharusnya mendekatkan anda kepada Tuhan. Menghabiskan waktu bersama mereka membuat saya sadar bahwa mereka bukanlah yang terbaik buat saya, saya lebih senang mempunyai teman yang seagama dengan saya.
 
Ketika tiba waktu shalat, saya bisa melakukan shalat tanpa memberikan penjelasan. Ketika terlihat seseorang yang berbeda dijalan, kita tidak melakukan penilaian kepada mereka, berlawanan dengan menganggu atau mengejek mereka seperti apa yang teman dan saya lakukan dulu. Ini tidak bermaksud saya tidak berdoa untuk mereka.
 
Ada teman-teman yang memberikan dukungan kepada saya dan mencintai saya tanpa melihat apa yang saya pilih, dan untuk mereka ini, saya berterima kasih. Saya hanya bisa berharap Allah Swt akan membimbing mereka. Apa yang mengejutkan ialah saya dapati mereka ini benar-benar tidak mengetahui tentang Islam, dan adakalanya tentang agama yang mereka anuti sendiri. Saya memang jahil tentang Islam sebelum saya memeluk Islam, tetapi saya tidak terpikir bahwa teman-teman saya juga sama jahilnya dengan saya tentang Islam dan agama mereka sendiri!
 
Kehormatan terbesar dalam kehidupan saya ialah memeluk agama Islam. Kemuliaan kedua bagi saya ialah menjelaskan Islam kepada orang lain. Saya bersyukur karena orang-orang merasa nyaman disekitar saya di toko, dalam antrian di Subway, atau di kantor saya, atau di taman menanyakan keyakinan saya. Saya sungguh berharap bahwa saya cukup pandai berbicara untuk menjelaskan tentang agama saya.
 
Tidak ada perkara lain yang begitu saya cintai dari berbicara tentang apa yang saya yakini dan mengapa saya menyakininya. Saya tidak bisa memaksa orang lain mempercayai Islam,"Tidak ada paksaan untuk memasuki Islam; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang salah." (Quran 2.256). Sekaliun demikian, saya bisa memberitahu orang lain yang tidak memahami Islam. Saya tidak bisa mengajar iman, karena ianya hanya berada dalam hati dan antara anda dan Allah Swt, tetapi saya bisa mengajar agama dan pesan-Nya. Ajaran ini, dakwah ini, merupakan bagian penting Islam. Islam bukan milik kita, ia merupakan milik semua manusia. Islam dan Nabi Muhammad Saw merupakan rahmat bagi seluruh dunia.
 
Saya pernah ditegur, "kembalilah kenegeri anda" di tempat parkir WalMart. Saya membalas kembali, "Saya berasal dari Cleveland!" Saya juga pernah diberitahu 'diamlah' ketika makan es krim dengan teman-teman muslim saya tanpa alasan sedikitpun. Saya juga bertemu orang yang memastikan anak-anak mereka tidak berjalan berhampiran saya di restoran. Saya juga diberitahu oleh orang bahwa Nabi Isa mencintai saya dan saya balas kembali, 'Saya juga mencintainya!' Saya juga bertemu dengan seorang wanita yang mengatakan betapa dia merasa jelek dengan cara saya berpakaian. Ketika itu saya mengenakan pakaian panjang dan baju berleher tinggi manaka dia mengenakan tube top dan rok mini. Saya membalas kembali, sayang, saya merasakan lebih buruk untuk anda. Saya juga menemukan orang tua yang memberitahu anak-anak mereka bahwa saya mengenakan hijab karena saya diserang kanker. Semua baik-baik saja. Seandainya orang ini tahu bahwa kedamaian yang terdapat dalam hati kita, sudah tentu mereka akan memperjuangkan kita untuknya.
 
Saya berharap untuk mengenalkan Islam kepada banyak orang, dan saya berharap agar lebih banyak lagi yang berpikiran terbuka untuk belajar, dan saya berharap saya bisa melanjutkan pelajaran untuk selamanya. Saya mengalakkan penduduk Muslim untuk mengenal orang lain dari berbagai budaya dan agama serta menjelaskan agama kita. Tidak perlu mengisolasi diri, alangkah indahnya jika saja kita dapat berbicara sendiri dan membiarkan orang lain berbicara untukkita. Semoga Allah swt terus merahmati kita dengan iman dan insya Allah kita semua akan saling tertarik untuk menghampiri Allah Swt.
 
Sesungguhnya semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. (Quran 2.156) (IRIB Indonesia / myfellowamerican.us)

0 komentar:

Posting Komentar