Akhirnya, setelah bertahun-tahun berusaha untuk memahami keimanan saya,
selepas menghadiri berbagai servis agama dan hanya bisa meyakini
sebagian dari apa yang saya dengar, seorang teman baik bertanya dengan
saya apakah agama saya. Kami sudah agak lama bertemantetapi saya tidak
pernah bertanya apakah agamanya. Saya menjelaskan pegangan saya, bahwa
saya mempercayai keberadaan Tuhan, bukan Trinitas, dan saya menyakini
akan surga dan malaikat, tetapi saya juga mengatakan bahwa ia tidak
punya nama agama dan saya tidak tahu namanya. Dia memberitahu saya
bahwa saya berada dalam kealpaan sepanjang masa ini dan segala
kepercayaan saya konsisten dengan kepercayaannya sebagai seorang Muslim.
Pada mulanya saya pikir dia hanya berusaha untuk memperlihatkan Islam
sebagai sesuatu yang baik. Dalam upaya menjelaskan keyakinannya, dia
mengenalkan saya ayat-ayat dari al-Quran dan saya menyetujuinya. Saya
pikir dia hanya memetik dan memilih ayat-ayat yang terbaik dalam upaya
untuk membuat saya meminatinya. Saya kemudiannya membeli sendiri sebuah
al-Quran dalam usaha untuk mencari sesuatu yang tidak saya sesuai dengan
saya. Saya tidak dapat mencari walaupun satu ayat. Saya menyetujui
kesemuanya. Saya dapat memahami mengapa ayat-ayat itu seperti mukjizat.
Semua ayat merupakan mukjizat. Malah, setiap kata adalah mukjizat.
Ini merupakan sebuah mukjizat dalam kehidupan saya, selepas mencari
selama 20 tahun, selepas berada dalam kebingungan, selepas memikirkan
bahwa saya tidak mungkin menemukan siapa yang punya keyakinan seperti
saya, saya menemukan Allah swt lewat kehendak-Nya. Bagian yang terbaik
ialah Allah senantiasa bersama saya. Saya akan berjaga sampai lewat
malam untuk membaca al-Quran dan menangis karena mengetahui bahwa apa
yang saya baca adalah benar. Saya memikirkan betapa indahnya Allah Swt
telah memberikan kepada para nabi mukjizat untuk dilihat oleh umatnya,
tetapi memberikan Nabi Muhammad Saw sebuah mukjizat yang bisa saya
pegang setiap hari, yaitu al-Quran.
Saya tahu bahwa diri saya adalah seorang muslim dan saya tahu bahwa
saya begitu beruntung karena Allah Swt menginginkan saya, seorang
pelajar kolej berusia 20 tahun, untuk datang kepada-Nya. Betapa
beruntungnya diriku? Dan bagaimana bisa saya melakukan perkara lain
selain dari mencari segala ilmu dan keimanan ketika saya dipilih
oleh-Nya untuk memeluk Islam?
Ada
sebuah hadis yang menyebutkan,"Jika anda menghampiri Allah sejengkal,
Allah akan menghampiri kalian sehasta, jika kalian menghampiri Allah
sehasta, Allah akan menghampiri kalian sedepa. Dan jika anda berjalan
kepada-Nya, Allah akan berlari kepada anda. Saya menghampirinya
kilometer demi kilometer dan Allah melampaui upaya saya. Saya berlari
kepada-Nya, dan Allah demikian cepat kearah saya secepat kilat.
Saya tidaklah mengatakan bahwa tidak ada waktunya saya ketakutan.
Orang-orang Amerika tidak begitu menyenangi Muslim, dan selepas segala
gambaran negatif yang dilakukan oleh media, saya menjangkakan bahwa
teman-teman saya akan turut mempunyai perasaan yang sama. Sebagian
memang sedemikian dan saya tidak keberatan melepaskan mereka sebagai
teman. Seorang teman seharusnya menerima anda seadanya, dan juga mereka
seharusnya mendekatkan anda kepada Tuhan. Menghabiskan waktu bersama
mereka membuat saya sadar bahwa mereka bukanlah yang terbaik buat saya,
saya lebih senang mempunyai teman yang seagama dengan saya.
Ketika tiba waktu shalat, saya bisa melakukan shalat tanpa memberikan
penjelasan. Ketika terlihat seseorang yang berbeda dijalan, kita tidak
melakukan penilaian kepada mereka, berlawanan dengan menganggu atau
mengejek mereka seperti apa yang teman dan saya lakukan dulu. Ini tidak
bermaksud saya tidak berdoa untuk mereka.
Ada teman-teman yang memberikan dukungan kepada saya dan mencintai saya
tanpa melihat apa yang saya pilih, dan untuk mereka ini, saya berterima
kasih. Saya hanya bisa berharap Allah Swt akan membimbing mereka. Apa
yang mengejutkan ialah saya dapati mereka ini benar-benar tidak
mengetahui tentang Islam, dan adakalanya tentang agama yang mereka anuti
sendiri. Saya memang jahil tentang Islam sebelum saya memeluk Islam,
tetapi saya tidak terpikir bahwa teman-teman saya juga sama jahilnya
dengan saya tentang Islam dan agama mereka sendiri!
Kehormatan terbesar dalam kehidupan saya ialah memeluk agama Islam.
Kemuliaan kedua bagi saya ialah menjelaskan Islam kepada orang lain.
Saya bersyukur karena orang-orang merasa nyaman disekitar saya di toko,
dalam antrian di Subway, atau di kantor saya, atau di taman menanyakan
keyakinan saya. Saya sungguh berharap bahwa saya cukup pandai berbicara
untuk menjelaskan tentang agama saya.
Tidak ada perkara lain yang begitu saya cintai dari berbicara tentang
apa yang saya yakini dan mengapa saya menyakininya. Saya tidak bisa
memaksa orang lain mempercayai Islam,"Tidak ada paksaan untuk memasuki
Islam; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang salah."
(Quran 2.256). Sekaliun demikian, saya bisa memberitahu orang lain yang
tidak memahami Islam. Saya tidak bisa mengajar iman, karena ianya hanya
berada dalam hati dan antara anda dan Allah Swt, tetapi saya bisa
mengajar agama dan pesan-Nya. Ajaran ini, dakwah ini, merupakan bagian
penting Islam. Islam bukan milik kita, ia merupakan milik semua manusia.
Islam dan Nabi Muhammad Saw merupakan rahmat bagi seluruh dunia.
Saya pernah ditegur, "kembalilah kenegeri anda" di tempat parkir
WalMart. Saya membalas kembali, "Saya berasal dari Cleveland!" Saya juga
pernah diberitahu 'diamlah' ketika makan es krim dengan teman-teman
muslim saya tanpa alasan sedikitpun. Saya juga bertemu orang yang
memastikan anak-anak mereka tidak berjalan berhampiran saya di restoran.
Saya juga diberitahu oleh orang bahwa Nabi Isa mencintai saya dan saya
balas kembali, 'Saya juga mencintainya!' Saya juga bertemu dengan
seorang wanita yang mengatakan betapa dia merasa jelek dengan cara saya
berpakaian. Ketika itu saya mengenakan pakaian panjang dan baju berleher
tinggi manaka dia mengenakan tube top dan rok mini. Saya membalas
kembali, sayang, saya merasakan lebih buruk untuk anda. Saya juga
menemukan orang tua yang memberitahu anak-anak mereka bahwa saya
mengenakan hijab karena saya diserang kanker. Semua baik-baik saja.
Seandainya orang ini tahu bahwa kedamaian yang terdapat dalam hati kita,
sudah tentu mereka akan memperjuangkan kita untuknya.
Saya berharap untuk mengenalkan Islam kepada banyak orang, dan saya
berharap agar lebih banyak lagi yang berpikiran terbuka untuk belajar,
dan saya berharap saya bisa melanjutkan pelajaran untuk selamanya. Saya
mengalakkan penduduk Muslim untuk mengenal orang lain dari berbagai
budaya dan agama serta menjelaskan agama kita. Tidak perlu mengisolasi
diri, alangkah indahnya jika saja kita dapat berbicara sendiri dan
membiarkan orang lain berbicara untukkita. Semoga Allah swt terus
merahmati kita dengan iman dan insya Allah kita semua akan saling
tertarik untuk menghampiri Allah Swt.
Sesungguhnya semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. (Quran 2.156) (IRIB Indonesia / myfellowamerican.us)




0 komentar:
Posting Komentar